• 04:34
  • 04:44
  • 12:00
  • 15:22
  • 17:57
  • 19:08

Open
Close(x)
Detail
Perencanaan Keuangan ala Nabi Yusuf AS
Jumat, 26 Juli 2013 | 02:36 WIB

Diriwayatkan bagai novel dalam al-Quran, kisah hidup Nabi Yusuf AS, mulai dari saat ia kecil dan “dibuang” oleh saudara-saudaranya sendiri, difitnah sampai masuk penjara, sampai saat ia memegang kekuasaan dalam pemerintahan. Salah satu episode kehidupan Nabi Yusuf AS yang bisa menjadi pelajaran bagi kita adalah saat ia menafsirkan mimpir sang raja.

Raja bermimpi melihat 7 ekor sapi gemuk-gemuk yang dimakan oleh 7 ekor sapi kurus. Lalu raja pun melihat ada 7 tangkai gandung yang berisi, dengan 7 tangkai gandum yang sudah kering. Cerdik pandai dan orang pintar di kerajaan sudah ditanyakan apa arti dari mimpi ini. Namun tak seorang pun bisa menafsirkannya.

Sampai kemudian mimpi ini disampaikan kepada Yusuf AS yang saat itu di dalam penjara, lalu ia pun menafsirkan arti dari mimpi tadi. Bahkan akan datang masa 7 tahun panen, yang kemudian diikuti dengan masa 7 tahun paceklik, barulah kemudian datang kembali 7 tahun masa panen. Inilah arti dari 7 ekor sapi gemuk-gemuk yang dimakan oleh 7 ekor sapi kurus tadi.

Adapun gandum yang masih segar dengan gandum yang sudah kering adalah solusinya. Hendaknya bertanam seperti biasa pada 7 tahun masa panen tersebut, dan menyimpan hasil panennya di dalam lumbung, kecuali sedikit untuk dimakan.

Setelah itu, Nabi Yusuf AS pun diangkat sebagai salah satu pejabat yang dipercaya di kerajaan Mesir pada saat itu. Ia pun membuat kebijakan di seluruh penjuru Mesir agar rakyatnya menanam gandum seperti biasanya, dan membangun lumbung atau gudang penyimpanan agar hasil panen tersebut dapat disimpan dengan baik.

Apa yang diprediksikan dari mimpi raja tersebut pun terbukti, 7 tahun kemudian, datang masa paceklik dimana hasil panen tidak lagi memadai seperti biasanya. Mesir dan negeri-negeri sekitarnya mengalami kekeringan dan kelaparan. Kecuali rakyat Mesir yang sudah menyimpan sebagian persediaan gandum mereka di dalam gandum, tetap tidak kelaparan walaupun masa paceklik.

Dari sepenggal sejarah di atas, dapat kita simpulkan bahwa strategi untuk menghadapi masa paceklik yang sudah diprediksi sebelumnya adalah dengan cara menyimpan sebagian hasil panen tersebut untuk digunakan saat tak bisa lagi panen karena kekeringan.

Begitupun dalam masa kehidupan kita ada yang namanya masa panen (masa produktif) dimana kita bisa bekerja dan berpenghasilan, dan akan datang pula masa paceklik (masa tidak produktif) yaitu saat kita memasuki masa pensiun, atau dalam keadaan ketidakberdayaan seperti sakit dan sebagainya.

Lalu apa yang sudah kita lakukan untuk menghadapi masa tidak produktif tersebut? Berkaca pada kisah tersebut, kita diminta untuk tidak mengkonsumsi hasil panen (penghasilan) kita seluruhnya. Tapi menyimpan sebagiannya di dalam lumbung atau diinvestasikan.

Memang betul kita tidak mendapatkan mimpi seperti mimpi sang raja tersebut, tapi bukankah saat ini kita sudah bisa memprediksi jika ada kesulitan ekonomi yang akan datang menghampiri. Berita di berbagai macam media sudah bisa kita dapatkan dengan mudah. Berita tentang inflasi atau kenaikan harga, kenaikan suku bunga, perkembangan investasi, dan lain sebagainya. Semua tersaji dengan nyata bukan lagi melalui mimpi. Setidaknya kita sudah bisa memprediksi pula akan datang masa tidak produktif berupa pensiun dimana fisik akan semakin lemah untuk terus bekerja.

Maka sudahkah kita siapkan lumbung gandum itu?

 

Ahmad Gozali

Perencana Keuangan dari Zelts Consulting

Zelts-consulting.com

Berita Ramadhan Lainnya